Ekonomi Teknik 2. Bab 2
Konsep Konsep Biaya & Lingkungan Ekonomi
1.
Pendekatan Terintegrasi
Pendekatan Terintegrasi
adalah suatu metode pendekatan terhadap suatu hal namun dari berbagai sudut
pandang. Pendekatan ini bertujuan untuk mempelajari suatu hal secara menyeluruh
agar dapat mempunyai gambaran yang lebih besar terhadap suatu hal.
Pendekatan terintegrasi
digunakan untuk mengembangkan arus kas netto untuk altenatif proyek terpilih.
Kita akan mempergunakan istilah proyek menurut pekerjaan yang merupakan subjek
analisis. Pendekatan terintegrasi ini termasuk tiga komponen dasar,yaitu:
1. Struktur
Perincian Kerja (WBS = Work Breakdown Structure). WBS merupakan teknik untuk
mendefinisikar secara eksplisit, pada tingkat kesuksesan yang rinci,
elemen-elemen kerja proyek dan hubungan-hubungan antar mereka (kadang-kadang
disebut struktur elemen kerja).
2. Struktur
biaya dan penghasilan (klasifikasi). Penggambaran kategori dan elemen
biaya dan penghasilan yang akan diperkirakan dalam mengembangan arus kas.
3. Teknik-teknik
perkiraan (model). Model-model matematik terseleksi dipergunakan untuk
memperkirakan biaya dan penghasilan mendatang selama periode analisis.
Ketiga komponen dasar
tersebut, bersama dengan langkah-langkah prosedural terintegrasi, memberikan
pendekatan terorganisasi untuk mengembangkan arus kas untuk
alternatif-alternatif.
Pendekatan integrasikan
dimulai dengan deskripsi proyek dalam istilah WBS. Proyek WBS dipergunakan
untuk menjelaskan proyek dan tiap karakteristik lainnya yang direfleksikan
dalam biaya dan penghasilan akan datang yang diperkirakan untuk alternatif
tersebut (arus kas netto). Untuk memperkirakan biaya dan penghasilan akan
datang untuk suatu alternatif, perspektif (sudut pandang) dari arus kas
haruslah disusun. Selain itu, kita juga harus mendefinisikan garis dasar
perkiraan dan periode analisis. Pada umumnya, arus kas dikembangkan dari sudut
pandang si pemilik modal.
Arus kas netto untuk
suatu alternatif menyatakan apa yang diperkirakan terjadi pada biaya dan
penghasilan mendatang dari sudut pandang yang dipergunakan. Kemudian, perubahan
yang diperkirakan dalam biaya dan penghasilan tersebut dihubungkan dengan
alternatif yang relatif terhadap garis dasar secara konsisten juga dipergunakan
untuk seluruh alternatif yang akan diperbandingkan. Garis dasar ini dapat
didefinisikan dan diaplikasikan dalam 2 cara, yaitu :
1. Cara
pertama adalah dengan pendekatan penghasilan dan biaya total. Maksudnya adalah
alternatif tanpa perubahan dimasukkan secara eksplisit dalam kumpulan
alternatif dan biaya-biaya serta penghasilan-penghasilan total. Jika ketika
pendekatan garis dasar biaya dan penghasilan total dipergunakan, maka arus kas
netto untuk alternatif tanpa perubahan menyatakan biaya-biaya dan
penghasilan-penghasilan yang diproyeksikan dari alternatif terpilih lainnya
yang diperkirakan.
2. Cara
kedua adalah dengan pendekatan differensial. Pada pendekatan ini, arus kas
untuk alternatif tanpa perubahan didefinisikan sebagai nol, baik merupakan
salah satu atau tidak dari alternatif-alternatif yang dipilih. Arus kas untuk
tiap alternatif terpilih lainnya kemudian menyatakan perubahan-perubahan yang
diperkirakan dalam biaya dan perhasilan relatif terhadap keadaan sekarang.
Jika pendekatan garis
dasar perkiraan yang digunakan dalam kajian, maka pendekatan itulah yang harus
digunakan secara konsisten untuk seluruh alternatif. Kesalah yang sering
dilakukan adalah kesalahan mempergunakan kedua definisi garis dasar ketika
mengembangkan arus kas individual. Contohnya adalah pendekatan penghasilan dan
biaya total yang seharusnya dipergunakan pada biaya perawatan perkiraan untuk
alternatif yang tak berubah, tetapi pada alternatif lainnya, biaya-biaya ini
seharusnya diperkirakan dengan mempergunakan perbedaan-perbedaan dari
operasi-operasi saat ini.
· Struktur Perincian Kerja (WBS)
Teknik ini merupakan
alat dasar dalam manajemen proyek dan alat bantu yang penting dalam studi
ekonomi teknik. WBS berlaku sebagai kerangka kerja untuk mendefinisikan seluruh
elemen-elemen kerja proyek dan hubungan-huburìgan antar mereka, mengumpulkan dan
mengorganisasikan informasi, mengembangkan data biaya dan penghasilan yang
relevan dan mengintegrasikan aktivitas-aktivitas manajemen proyek. Jika WBS
tidak ada dan proyek merupakan ukuran yang layak, maka langkah pertama dalam
mempersiapkan arus kas untuk altematif-alternatif, sebaiknya dengan
mengembangkan salah satu.
WBS penting dalam
memastikan inklusi dari seluruh elemen-elemen kerja, mengeliminasi duplikasi
dan tumpang tindih antara elemen-elemen kerja, menghindari aktivitas-aktivitas
tak berhubungan dan melindungi kesalahan-kesalahan lain yang dapat masuk ke
dalam kajian. Kamus deskripsi WBS sering kali dipersiapkan untuk proyek-proyek
besar untuk memastikan bahwa tiap elemen kerja dalam hierarki didefinisikan
secara unik.
· Struktur Biaya dan Penghasilan
Komponen dasar ke dua
dari pendekatan terintegrasi untuk pengembangan arus kas adalah struktur
biaya dan penghasilan. Struktur ini dipergunakan untuk mengindentifikasi dan
mengkategorikan biaya dan penghasilan diperlukan untuk dimasukkan dalam
analisis.
a. Pemakaian
Konsep Siklus-Umur dan WBS.
Siklus umur dibagi
menjadi dua periode waktu umum: fasa akuisisi dan fasa operasi. Konsep dimulai
dengan identifikasi awal dari kebutuhan atau keinginan ekonomi (persyaratan)
dan diakhiri dengan pembayaran atau penyelesaian. Jadi, dinginkan untuk
mencakup seluruh biaya dan penghasilan sekarang dan akan datang.
Konsep siklus-umur dan
WBS merupakan bantuan penting dalam pengembangan struktur biaya dan penghasilan
untuk suatu proyek. Siklus umur mendefinisikan periode waktu maksimum dan
menetapkan batasan elemen biaya dan penghasilan yang diperlukan untuk
dipertimbangkan dalam pengembangan arus kas. WBS memusatkan usaha analis pada
elemen-elemen kerja fungsional dan fisik spesifik, dan juga pada biaya dan
penghasilan yang berhubungan dengannya.
Secara ideal, periode
kajian untuk proyek adalah siklus umur dari produk, struktur, sistem dan
pelayanan yang terlibat. Hal ini memberikan seluruh biaya dan pendapatan yang
relevan, baik sekarang dan akan datang, untuk dipertimbangkan secara penuh
dalam pembuatan keputusan. Juga, periode kajian ini memungkinkan pertukaran
secara eksplisit antara biaya-biaya awal selama fasa akuisisi dan seluruh biaya
dan penghasilan berikuthya selama fasa operasi dalam menganalisa beberapa alternatif.
b. Perkiraan
Diperlukan Untuk Studi Ekonomi Teknik Tipikal
Sumber kesalahan paling
serius dalam mengembangkan arus kas adalah pengabaian kategori-kategori penting
dari biaya dan penghasilan. Struktur biaya dan penghasilan, dipersiapkan dalam
bentuk tabel atau daftar, merupakan cara yang baik dari perlindungan kesalahan
serupa. Kedekatan secara teknis dengan proyek merupakan hal penting dalam
memastikan ketidaklengkapan struktur, sebagaimana mempergunakan konsep siklus
umur dan WBS untuk persiapannya.
Berikut adalah daftar
singkat dari beberapa kategori biaya dan penghasilan yang secara tipikal
diperlukan dalam kajian ekonomi teknik, bersama dengan suatu diskusi bagaimana
perkiraan seharusnya dicapai:
1. Investasi modal terdiri
dari dua kategori pokok:
Ø Investasi
modal tetap, seperti untuk kajian kelayakan, desain dan engineering, pembelian
dan perbaikan tanah, bangunan, peralatan, instalasi, pengeluaran-pengeluaran
untuk promosi dan hukum, dan biaya-biaya permulaan.
Ø Modal
kerja, seperti untuk inventori, rekening diterima, tunai untuk upah, material,
dan rekening lain yang terbayar. Modal kerja adalah dana berputar yang
diperlukan untuk mendapatkan proyek yang dimulai dan mempertemukan obligasi
berikutnya. Secara normal, dianggap bahwa sebagian atau seluruh modal kerja
dapat dikembalikan pada akhir umur proyek.
2. Biaya tenaga
kerja merupakan fungsi dari tingkat ketrampilan, pasokan tenaga kerja dan
waktu diperlukan. Standar untuk jumlah normal dari output per jam tenaga kerja
telah dikembangkan untuk beberapa kelas kerja. Waktu standar yang
dikombinasikan dengan rata-rata upah diharapkan memberikan perkiraan biaya
tenaga kerja yang masuk akal untuk pekerjaan-pekerjaan berulang.
3. Biaya material tergantung
pada situasi proyek atau operasi; sebagai contoh suatu output dari operasi A
dapat merupakan input untuk operasi B. Biaya material adalah biaya yang
dihubungkan dengan substansi-substansi fisik yang akan dikerjakan atau
ditransformasikan.
4. Biaya perawatan adalah
biaya rutin yang diperlukan untuk pemeltharaan properti dan perubahan-perubahan
kecil yang diperlukan untuk pemakaiannya yang lebih efisien. Biaya perawatan
cenderung bertambah seiring umur dari aset.
5. Pajak properti dan
asuransi biasanya dinyatakan sebagai prosentase tahunan dari investasi
modal dalam perbandingan ekonomis.
6. Biaya kwalitas
(dan sisa) tergantung dari tipe produk dan hubungannya dengan standar
kwalitas, sama halnya terhadap kemampuan dari tenaga kerja, waktu belajar dan
kemungkinan kerja ulang.
7. Biaya overhead adalah
biaya-biaya yang tidak dapat dikenakan secara tepat dan praktis terhadap produk
atau jasa utama, dan sehingga secara normal dibagi rata antara pusat-pusat
produk atau biaya terhadap beberapa dasar yang berubah-ubah.
8. Biaya terbuang adalah
biaya tidak kembali yang berhubungan dengan penghentian operasi dan
pemberhentian, pembuangan atau penjualan aset untuk menyediakan bunga terbaik
dari pemilik.
9. Penghasilan adalah
kas masuk (penerimaan) dari seluruh sumber-sumber potensial. Perbedaan-perbedaan
penghasilan antara altematif-alternatif perlu untuk dipertimbangkan secara
teliti. Mereka diproyeksikan berdasar pada kondisi pasar mutahir,
perubahan-perubahan akan datang yang diharapkan dalam pasar untuk produk dan
jasa yang dilibatkan, saham pasar diharapkan perusahaan dan harga yang
didasatkan pada kompetisi.
10. NÃlai sisa
atau pasar secara tipikal merupakan fungsi dari umur pemakaian aset dan
dalam kasus umur yang panjang adalah secara relatif tidak penting untuk hasil
studi.
· Teknik-Teknik (Model-Model)
Perkiraan
Komponen dasar ke tiga
dari pendekatan terintegrasi melibatkan teknik-teknik (model-model) perkiraan.
Teknik-teknik tersebut, bersama dengan data biaya dan penghasilan yang rinci
dipergunakan untuk mengembangkan perkiraan arus kas dan arus kas netto untuk
tiap altematif. Perkiraan biaya dan penghasilan dapat diklasifikasikan menurut
rincian, akurasi dan pemakaian yang mereka inginkan sebagai berikut:
1. Orde
dari perkiraan besarnya (tingkat evaluasi perencanaan dan awal dari suatu proyek)
Orde
perkiraan besarnya dipergunakan dalam menseleksi altematif-altematif yang layak
untuk kajian. Mereka secara tipikal memberikan akurasi dalam batas kurang lebih
30 sampai 50% dan dikembangkan melalui hal-hal semi formal seperti konferensi, angket
dan pertanyaan-pertanyaan bersifat umum yang diaplikasikan pada Tingkat 1 atau
2 dari WBS.
2. Perkiraan
setengah rinci atau rencana anggaran (tingkat desain pendahuluan atau
konseptual dari suatu proyek)
Perkiraan rencana
anggaran (setengah rinci) disusun untuk mendukung pekerjaan desain pendahuluan
dan keputusan dibuat selama periode proyek iiii. Aku- rasi perkiraan biasanya
terletak dalam batas kurang lebih 15 %. Perkiraan ini berbeda dalam kebenaran
laporan biaya dan penghasilan dan jumlah pekerjaan diha- biskan untuk
perkiraan. Persamaan perkiraan yang diaplikasikan pada Tingkat 2 dan 3 dari WBS
dipergunakan secara normal.
3. Perkiraan
definitif (terinci): dipergunakan dalam tingkat engineering/konstruksi terinci
dari suatu proyek
Perkiraan secara rinci
dipergunakan sebagai dasar untuk penawaran dan untuk membuat keputusan desain
secara rinci. Akurasinya sebesar kurang lebih 5%. Perkiraan ini dibentuk dari
spesifikasi, gambar, peninjauan lokasi, penentuan penjual, dan catatan sejarah
perusahaan dan biasanya dilakukan pada Tingkat 3 dan tingkat selanjutnya dalam
WBS.
Jadi, nampak jelas
bahwa perkiraan biaya atau penghasilan dapat bervariasi dari perhitungan balik
amplop oleh seorang ahli hingga ramalan yang sangat rinci dan akurat dari waktu
mendatang oleh tim proyek. Tingkat rincian dan akurasi dari perkiraan akan
tergantung pada:
1. Waktu
dan pekerjaan tersedia dan dinilai oleh kepentingan kajian.
2. Kesulitan
memperkirakan bagian-bagian dalam pertanyaan.
3. Metode
atau teknik yang dipakai.
4. Kualifikasi
dari penilai.
5. Sensitivitas
dari hasil-hasil kajian terhadap perkiraan faktor utama
Selama
perkiraan menjadi lebih rinci, secara tipikal akurasi menjadi lebih baik tetapi
biasa perkiraan bertambah secara dramatis.
2. Teknik Teknik Perkiraan Terpilih
Teknik-Teknik (Model-Model)
Perkiraan Terpilih
Teknik-teknik perkiraan
yang didiskusikan dalam bagian ini dapat dipergunakan untuk perkiraan orde
besar dan beberapa perkiraan setengah rinci atau rencana
anggaran. Teknik-teknik ini sangat berguna dalam seleksi awal dari
alternatif-alternatif yang layak untuk analsis lebih lanjut dalam fasa desain
konseptual atau pendahuluan dari suatu proyek. Seringkali, model-model ini
dapat dipergunakan dalam fasa desain rinci dari suatu proyek untuk mengurangi
jumlah perkiraan teknis berdasarkan pada ongkos material, biaya-biaya standard
an informasi rinci lainnya. Teknik-teknik perkiraan terpilih yang akan dibahas
adalah teknik indeks, teknik satuan, teknik faktor, dan hubungan-hubungan
perkiraan.
Biaya
dan harga bervariasi terhadap waktu dengan sejumlah alasan, termasuk kemajuan
teknologi, tersedianya tenaga kerja dan material serta inflasi. Indeks
merupakan bilangan tak berdimensi yang menunjukkan berapa biaya yang berubah
terhadap waktu dengan basis tahun dasar. Indeks memberikan cara yang tepat
untuk mengembangkan perkiraan biaya dan harga sekarang serta akan datang dari
data yang tersedia.
Dimana
:
k =
tahun referensi dimana biaya dan harga barang diketahui
n =
tahun dimana biaya atau harga diperkirakan (n>k)
Cn =
biaya atau harga yang diperkirakan dari barang dalam tahun n
Ck =
biaya atau harga barang dalam tahun referensi k
Persamaan tersebut juga
dinyatakan sebagai teknik rasio dari biaya dan harga perbaruan. Pada teknik
ini, biaya dan harga penjualan potensial suatu barang dapat diambil dari data
terdahulu dengan tahun dasar khusus dan diperbarui dengan satu indeks. Konsep
ini dapat diaplikasikan pada tingkat lebih rendah WBS untuk memperikirakan
biaya peralatan, material, dan tenaga kerja, sama halnya pada tingkat atas WBS
untuk memperkirakan biaya proyek total dari fasilitas baru, jembatan, dan
sebagainya.
· Teknik Satuan
Teknik satuan meliputi
pemakaian ”faktor per satuan” yang dapat diperkirakan secara efektif, contohnya
adalah biaya modal dari pembangkit per kilowatt kapasitas, penghasilan per mil,
biaya perawatan per jam, dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut jika dikalikan
dengan satuan yang tepat akan memberikan perkiraan total dari biaya, penghematan
atau penghasilan.
· Teknik Faktor
Teknik faktor merupakan
perluasan dari metode satuan, dalam strategi pembagian dasar, dimana satu
penjumlahan produk dari beberapa kuantitas atau komponen dan menambahkannya
untuk tiap komponen yang diperkirakan secara langsung adalah, dimana :
C =
biaya yang diperkirakan
Cd =
biaya dari komponen terseleksi d yang diperkirakan secara langsung
fm =
biaya per satuan komponen m
Um =
jumlah satuan komponen m
Teknik faktor sangat
berguna ketika kekompleksan dari situasi perkiraan tidak memerlukan WBS tetapi
beberapa bagian berbeda dilibatkan.
· Hubungan-hubungan Perkiraan
Hubungan-hubungan
perkiraan biaya dan harga merupakan model matematis yang menjelaskan biaya
suatu barang (misalnya produk, barang, atau aktivitas) sebagai fungsi dari satu
atau lebih variabel bebas. Bermacam-macam teknik statistik atau matematis
lainnya dipergunakan untuk mengembangkan hubungan-hubungan perkiraan. Model
regresi linear sederhana dan regresi linear kelipatan yang merupakan standar
metode statistik untuk memperkirakan nilai variabel terikat sebagai fungsi dari
satu atau lebih variabel bebas.
a. Teknik
Ukuran-Pangkat
Teknik ukuran pangkat,
yang seringkali dinyatakan sebagai model eksponensial, sering dipergunakan
untuk menentukan biaya pabrik dan peralatan industri. Metode ini menyatakan
bahwa biaya bervariasi terhadap jumlah pangkat dari perubahan kapasitas atau
ukuran, dimana :
CA =
biaya untuk pabrik A
CB =
biaya untuk pabrik B
SA =
ukuran pabrik A
SB =
ukuran pabrik B
X =
faktor kapasitas-biaya untuk menunjukkan ekonomi skala
b. Pembelajaran
dan Perbaikan
Suatu kurva
pembelajaran merupakan model matematis yang menjelaskan fenomena dari efisiensi
pekerja yang bertambah dan kinerja organisasi yang diperbaiki dengan produksi
repetitif dari barang atau jasa. Kurva pembelajaran kadang disebut sebagai
kurva pengalaman atau fungsi proses manufaktur. Sebagai contoh, efek kurva
pembelajaran dapat dipergunakan dalam memperkirakan jam-jam professional yang
dihabiskan oleh staf engineering untuk menyelesaikan desain rinci berurutan
dalam famili produk, sebagaimana perkiraan jam-jam tenaga kerja diperlukan
untuk merakit mobil.
Konsep dasar dari kurva
pembelajaran adalah beberapa sumber-sumber input (misalnya biaya energi,
jam-jam tenaga kerja, biaya material, jam-jam engineering) berkurang pada tiap
output dasar satuan sebagai jumlah satuan yang dihasilkan. Kebanyakan kurva
pembelajaran didasarkan pada asumsi bahwa pengurangan persentase yang terjadi
akan membuat jumlah satuan-satuan yang dihasilkan menjadi dua kali lipatnya. Sebagai
contoh, jika 100 jam tenaga kerja diperlukan untuk menghasilkan satuan output
pertama dan diasumsikan kurva pembelajaran 90% maka 100 (0,9) = 90 jam kerja
akan diperlukan menghasilkan unit kedua. Hal serupa, 100 (0,9)2 = 81 jam
kerja akan diperlukan untuk menghasilkan unit keempat, dan seterusnya.
Sehingga, kurva pengetahuan 90% akan menghasilkan pengurangan 10% dalam jam-jam
tenaga kerja tiap kali kuantitas produksi dilipatduakan.
Asumsi dari pengurangan
persentase dengan jumlah konstan dari sumber input yang dipergunakan (per
satuan output) tiap waktu jumlah satuan output dilipatduakan dapat dipergunakan
untuk mengembangkan model matematik sebagai fungsi pembelajaran (perbaikan).
Jika,
u =
jumlah satuan output
Zu =
jumlah satuan sumber input yang diperlukan untuk menghasilkan jumlah satuan
output u
k =
jumlah satuan sumber input yang diperlukan untuk menghasilkan satuan output
pertama
s =
parameter koefisien arah kurva pembelajaran yang dinyatakan sebagai pecahan
desimal (untuk kurva pembelajaran, s = 0,9)
3.
Biaya Biaya Produk Total Perkiraan Terpilih & Biaya Biaya Produk Total
Perkiraan Harga Penjualan
Pabrikan selalu
dihadapkan dengan masalah pembuatan produk yang dapat dijual pada harga yang
kompetitif sehingga mereka dapat membuat keuntungan yang layak. Harga dari
produk mereka didasarkan pada biaya keseluruhan untuk membuat barang ditambah
keuntungan.
Biaya produk dapat
diklasifikasikan secara langsung atau tidak langsung. Biaya langsung secara
mudah ditentukan ditetapkan untuk produk yang khusus, sedangkan biaya tidak
langsung tidaklah secara mudah dialokasikan untuk produk tertentu.
Biaya-biaya manufaktur
mempunyai hubungan langsung terhadap volume produksi di mana mereka dapat
tetap, variabel, atau variabel langkah. Secara umum, biaya administratif adalah
tetap dengan tanpa memperhatikan volume, biaya material bervariasi secara
langsung dengan volume, dan biaya peralatan merupakn fungsi langkah dari
tingkat produksi.
Biaya primer daalm kategori
pengeluaran manufaktur termasuk engineering dan desain, pengembangan
biaya, perkakas, tenaga kerja pabrik, material, supervisi, kontrol kualitas,
keandalan dan testing, pengemasan, biaya tambahan pabrik, umum dan
administratif, distribusi dan pemasaran, keuangan, pajak, dan asuransi.
Suatu perkiraan yang
rinci diperlukan. Sehingga, kita memerlukan gambar, spesifikasi, skedul
produksi, catatan historis dari biaya tenaga kerja perusahaan, tagihan untuk
material dan rencana proses. Rencana proses menjelaskan seluruh operasi yang
harus dilakukan untuk produk dan jam-jam tenaga kerja ikut dilibatkan.
Biaya engineering dan
desain terdiri dari desain, analisis dan gambar, bersama dengan biaya-biaya
lainnya seperti reproduksi. Biaya engineering dapat dialokasikan
terhadap produk dengan dasar berapa banyak jam kerja engineering yang
dilibatkan. Tipe-tipe biaya major lainnya yang harus diperkirakan adalah
sebagai berikut:
Ø Biaya-biaya
perkakas, yang terdiri dari perawatan dan perbaikan ditambah biaya dari tiap
peralatan baru.
Ø Biaya
tenaga kerja manufaktur, yang ditentukan dari data standar, catatan historis,
atau departemen akunting.
Ø Biaya-biaya
material, yang didapat dari catatan historis, ketetapan penjual dan tagihan
material.
Ø Kelebihan
bahan buangan harus dimasukkan.
Ø Supervisi,
yang merupakan biaya tetap berdasarkan gaji dari karyawan supervisor.
Ø Biaya
tambahan pabrik, yang termasuk utilitas, perawatan, dan perbaikan.
Terdapat bermacam-macam
metode yang dipergunakan untuk mengalokasikan biaya tambahan, seperti pembagian
terhadap dollar tenaga kerja langsung, atau jam-jam tenaga kerja langsung, atau
jam-jam mesin.
Ø Biaya
administratif, yang seringkali dimasukkan dalam biaya tambahan pabrik (atau
pokok).
· Contoh Perkiraan Biaya Manufaktur
Secara
tipikal, biaya-biaya tenaga kerja langsung diperkirakan melalui teknik satuan.
Rencana proses manufaktur dipergunakan untuk memperkirakan jumlah total dari
jam-jam tenaga kerja langsung yang diperlukan per satuan output. Besaran ini
kemudian dikalikan dengan rata-rata tenaga kerja komposit untuk mendapatkan
biaya tenaga kerja langsung total.
Biaya-biaya tenaga
kerja tidak langsung seringkali dialokasikan terhadap produk-produk individual
dengan mempergunakan perkiraan faktor. Perkiraan-perkiraan didapat dengan
pernyataan biaya sebagai persentase dari biaya lainnya.
· Pembiayaan Desain dan Sasaran
Secara tipikal,
firma-firma Amerika menentukan perkiraan awal dari harga jual produk baru
menggunakan pendekatan dari bawah ke atas yang telah dijelaskan dalam bagian
sebelum ini. Yaitu, harga jual perkiraan didapat dengan mengakumulasi
biaya-biaya tetap dan variabel dan kemudian menambahkan batas keuntungan yang
adalah persentase dari biaya total. Proses ini seringkali diistilahkan sebagai
desain untuk harga. Harga jual yang diperkirakan kemudian dipergunakan
departemen pemasaran untuk menentukan apakah produk baru dapat dijual atau
tidak.
Sebaliknya,
firma-firma Jepang menerapkan konsep pembiayaan sasaran yang merupakan
pendekatan dari atas ke bawah. Fokus dari pembiayaan sasaran adalah “berapa
sebaiknya biaya produk” selain dari “berapa biaya produk”.
Proses
desain engineering pendahuluan diawali secara bersama dengan
penentuan biaya sasaran dan mempergunakan perkakas konvensional seperti
struktur perincian kerja dan perkiraan biaya untuk mempersiapkan proyeksi biaya
manufaktur total dari bawah ke atas. Biaya manufaktur total menyatakan suatu
penaksiran awal dari berapa biaya firma untuk desain dan pembuatan produk yang
dipertimbangkan. Biaya manufaktur total kemudian dibandingkan terhadap biaya
sasaran dari atas ke bawah. Jika biaya manufaktur total melebihi biaya sasaran,
maka desain harus balik kembali ke engineering untuk membandingkan
nilai dan fungsi desain dan berusaha mengurangi biaya desain. Proses iteratif
ini merupakan kunci yang menunjukkan prosedur desain untuk biaya. Jika biaya
manufaktur total dapat dibuat lebih sedikit dibandingkan biaya sasaran, proses
desain berlanjut sampai desain terinci, berpuncak dalam desain akhir untuk
diproduksi. Jika biaya manufaktur total tidak dapat dikurangi ke biaya sasaran,
firma akan mempertimbangkan secara serius untuk mengabaikan produk.
4.
Perkiraan Arus Kas Untuk Proyek Kecil
Informasi tentang arus
kas suatu perusahaan berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk
menilai kemampuan perusahaan dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan
arus kas tersebut.
Dalam proses
pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas serta keputusan perolehannya.
Perusahaan harus menyusun laporan arus kas dan harus menyajikan laporan
tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dilaporan keuangan untuk periode
penyajian laporan keuangan.
Agar menghasilkan keuntungan
tambahan, perusahaan harus mempunyai kas untuk ditanamkan kembali. Keuntungan
yang dilaporkan dalam buku belum pasti dalam bentuk kas. Sehingga dengan
demikian perusahaan dapat mempunyai jumlah kas yang lebih besar atau lebih
kecil daripada jumlah keuntungan yang dilaporkan dalam buku.
Menurut Arthur, J.
Keown, David F. Scott Jr, Jhon D. Martin, J. William Petty (2001:678) setiap
usulan pengeluaran modal (capital expenditure) selalu mengandung dua macam arus
kas, yaitu:
a. Arus kas keluar netto (Net outflow of cash), yaitu: arus kas yang diperlukan
untuk investasi baru.
b. Arus kas masuk netto (Net inflow of cash), yaitu: sebagai hasil dari
investasi baru tersebut, yang sering disebut “Net cash proceeds.”
Pengertian luas
mengenai arus kas yang dari kegiatan penjualan atau kegiatan yang sama
dikurangi oleh semua biaya-biaya yang meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran
kas. Arus kas didefenisikan sebagai laba sebelum pajak dari suatu proyek,
ditambah dengan biaya penyusutan dan dikurangi laba bersih sebelum pajak
tambahan yang diakibatkan oleh proyek-proyek tersebut.
Laporan arus kas
melaporkan penerimaan kas, pembayaran kas dan perubahan bersih pada kas yang
berasal dari: Aktivitas Operasi, Investasi dan Pendanaan perusahaan selama satu
periode dalam suatu format yang menunjukkan bagaimana melaporkan suatu rugi
bersih dan tetap mengadakan pengeluaran modal yang besar atau membayar deviden,
atau akan menceritakan bagaimana perusahaan mengeluarkan atau menaikkan hutang
atau saham biasa atau keduanya selama periode tersebut. Sedangkan menurut
Ikatan Akuntansi Indonesia, arus kas merupakan arus kas masuk dan arus kas
keluar.
Oleh karena suatu
perusahaan membuat suatu laporan biasanya secara periodik, maka ketika
menyiapkan laporan arus kas yang berdasarkan pendapatan, akumulasi penyusutan,
pinjaman modal dan pajak harus menunjukkan pemisahan antara kelompok utama
penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto yang berasal dari:
1. Aktivitas
Operasi,
2. Aktivitas
Investasi
3. Aktivitas
Pendanaan.
Arus kas adalah istilah
yang digunakan untuk mengklasifikasikan arus kas (kas yang diterima) dari
kegiatan operasi. Istilah arus kas juga digunakan untuk menunjukkan dana,
dimana arus kas bersih mewakili perbedaan antara sumber dan penerimaan.
Pada
dasarnya ada beberapa motif (dorongan) yang menyebabkan perusahaan perlu
memiliki sejumlah kas. Dorongan-dorongan inilah yang menentukan jumlah kas yang
harus dimiliki perusahaan. Motif-motif tersebut, antara lain:
1. Motif Transaksi (Transaction Motive).
Motif Transaksi dimaksudkan bahwa perusahaan membutuhkan sejumlah uang tunai
untuk membiayai kegiatannya sehari-hari, seperti: untuk gaji dan upah, membeli
barang, membayar tagihan dan pembayaran hutang kepada kreditur apabila jatuh
tempo.
2. Motif Berjaga-jaga (Safety Motive / Precautionary Motive).
Motif Berjaga-jaga dimaksudkan untuk berjaga-jaga terhadap kebutuhan yang
mungkin terjadi, tetapi tidak jelas kapan akan terjadinya, seperti: kerusakan
mesin, perubahan harga bahan baku, kebakaran dan kecelakaan.
3. Motif Spekulatif (Speculative Motive).
Motif Spekulatif dimaksudkan untuk mengambil keuntungan kalau kesempatan itu
ada, seperti: perusahaan menggunakan kas yang dimilikinya untuk diinvestasikan
pada sekuritas (saham atau obligasi) dengan harapan setelah membeli sekuritas
tersebut harganya akan naik.
4. Motif Compensating Balance
Motif ini sebenarnya lebih merupakan keterpaksaan perusahaan akibat meminjam
sejumlah uang di bank. Apabila perusahaan meminjam uang di bank, biasanya bank
menghendaki agar perusahaan tersebut meninggalkan sejumlah uang di dalam
rekeningnya. Misalnya: suatu perusahaan meminjam dana dari bank sebesar Rp 500
juta dan bank mengharuskan perusahaan memiliki simpanan di bank tersebut dengan
saldo Rp 50 juta. Jumlah inilah yang disebut sebagai compensating balance.
Secara umum, hanya
motif transaksi dan berjaga-jaga saja yang paling sering menyebabkan perusahaan
harus memiliki kas, sedang alasan untuk spekulasi memiliki prioritas yang
paling rendah untuk diperhatikan karena saat terjadinya sangat sulit untuk
diprediksi oleh manajer keuangan.
Dalam
hal kepemilikan kas, perusahaan juga harus mampu melakukan penyeimbangan. Artinya:
apabila perusahaan memiliki saldo kas yang terlalu besar, maka perusahaan akan
mengalami kerugian dalam bentuk kehilangan kesempatan untuk menginvestasikan
dana tersebut pada kesempatan investasi lain yang lebih menguntungkan.
Sebaliknya apabila saldo kas terlalu rendah, kemungkinan perusahaan mengalami
kesulitan likuiditas. Oleh karena itu, ada beberapa model yang digunakan untuk
membantu menentukan target saldo kas.
a. Model Baumol
Model ini dikembangkan oleh William Baumol. Pada prinsipnya model persediaan
(EOQ) yang diterapkan pada manajemen kas. Biaya pesanan diganti dengan biaya
administrasi dan biaya transaksi pada waktu melakukan transfer kas menjadi
surat berharga dan sebaliknya.
Untuk dapat menggunakan Model Baumol dengan baik, maka harus didasarkan pada
berbagai asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, antara lain adalah:
1) Adanya kepastian jumlah kas yang dibutuhkan setiap saat.
2) Pengeluaran kas perusahaan tetap (konstan) dari waktu ke waktu.
3) Pada saat kas dibutuhkan surat berharga dengan segera dapat dijual.
4) Biaya yang dikeluarkan untuk menjual surat berharga menjadi kas adalah tetap
untuk setiap transaksi, tanpa dipengaruhi oleh jumlah atau nilai surat berharga
yang dijual.
Model Baumol memberikan
sumbangan penting bagi manjer keuangan dalam mengelola kas perusahaan. Meskipun
demikian ada beberapa keterbatasan dari model tersebut, yaitu:
a) Model tersebut mengasumsikan penggunaan kas yang konstan setiap periodenya.
Dalam prakteknya, pengeluaran kas tidaklah seluruhnya bisa dikendalikan oleh perusahaan.
b) Model tersebut mengasumsikan bahwa selama interval waktu tertentu terdapat
adanya kas masuk. Dalam prakteknya perusahaan ada melakukan penerimaan kas
dengan pengeluaran kas setiap harinya.
c) Tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya persediaan kas untuk keamanan, dan
sebagainya.
b. Model Miller-Orr
Model Miller-Orr tepat digunakan untuk kondisi dimana pengeluaran kas
ber-fluktuasi (tidak konstan) dari waktu ke waktu secara random dan tingkat
ketidakpastian pembayaran kas yang cukup besar. Model ini pada dasarnya
menentukan batas atas dan batas bawah fluktuasi kas.Idedasar model ini
adalah apabila jumlah kas mencapai batas atas, maka perusahaan membeli surat
berharga untuk menurunkan kas, sebaliknya apabila mencapai batas bawah maka perusahaan
menjual surat berharga untuk menambah kas. Selama kas berada antara batas atas
dan batas bawah, maka perusahaan tidak melakukan transaksi.
5. Pengembangan Arus Kas
Sebagaimana kita ketahui, bahwa sistem Akuntansi di Indonesia telah diputuskan
untuk mengikuti aliran Amerika, maka pernyataan ini juga berpengaruh terhadap
Akuntansi di Indonesia. Dengan melihat keadaan dan kebutuhan Negara Indonesia
khususnya mengenai informasi keuangan dari suatu unit usaha, maka oleh Komite
Ikatan Akuntansi Indonesia dengan penelitian yang bertahun-tahun yang telah
dilakukan mengambil langkah yang matang untuk memasukkan laporan arus kas
sebagai laporan utama pengganti laporan sumber dan penggunaan dana. Karena
laporan ini dianggap lebih memberikan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh
pemakai laporan.
Oleh karena itu,
dinyatakan bahwa suatu perusahaan harus menyusun atau diwajibkan menyusun
laporan arus kasnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan (bagian integral)
dari laporan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan. Pernyataan ini
mulai efektif berlaku mulai tanggal 1 Januari 1995. Jadi, laporan arus kas ini
merupakan perkembangan dari laporan perubahan posisi keuangan dan merupakan
pengganti dari laporan sumber dan penggunaan dana yang disusun untuk memenuhi
permintaan informasi keuangan bagi pihak luar perusahaan.
·
TUJUAN DAN MANFAAT LAPORAN ARUS KAS
Tujuan utama dari laporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai
penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode. Tujuan
keduanya adalah memberikan informasi atas dasar mengenai aktivitas operasi,
investasi dan pembelanjaan.
Selain tujuan di atas,
laporan arus kas juga penting untuk mengetahui keadaan kas secara pasti demi
menjaga likuiditas perusahaan. Dengan adanya laporan kas ini, maka perusahaan
akan mengetahui apakah perusahaan dalam keadaan defisit atau bahkan mengalami
surplus.
Apabila terjadi
defisit, perusahaan akan dapat memperkirakan darimana defisit tersebut dapat
ditutupi. Defisit dapat ditutupi dengan mengadakan pinjaman ke bank atau dengan
mencari modal sendiri, sedangkan bila terjadi surplus maka perusahaan dapat
memperkirakan atau merencanakan pemanfaatan kas.
Menurut
Harahap (2006:257), disamping tujuan yang disebutkan di atas laporan arus kas
juga bermanfaat untuk:
1. Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan, merencanakan, mengontrol arus kas
masuk dengan arus kas keluar pada masa lalu.
2. Menilai kemampuan keadaan arus kas masuk dan arus kas keluar, arus kas
bersih perusahaan termasuk kemampuan membayar deviden di masa yang akan datang.
3. Menyajikan informasi bagi investor, kreditur, memproyeksikan return dari
sumber kekayaan perusahaan.
4. Menilai kemampuan perusahaan untuk memasukkan kas ke perusahaan di masa yang
akan datang.
5. Menilai alasan perbedaan antara laba bersih dibandingkan dengan penerimaan
dan pengeluaran kas.
6. Menilai pengaruh investasi baik secara kas maupun bukan kas dan transaksi
lainnya terhadap posisi keuangan perusahaan selama satu periode tertentu.
·
KLASIFIKASI ARUS KAS
Menurut Niswonger, Roilin C, Philip E (2003:145) laporan arus kas melaporkan
arus kas melalui 3 jenis aktivitas, yaitu:
1. Arus kas dari aktivitas operasi (cash flows from operating activities)
adalah: arus kas dari transaksi yang mempengaruhi laba bersih. Contoh: mencakup
pembelian dan penjualan barang dagang oleh pengecer.
2. Arus kas dari aktivitas investasi (cash flows investing activities) adalah:
kas dari transaksi yang mempengaruhi investasi aktiva tetap. Contoh: penjualan
dan pembelian aktiva tetap, seperti: peralatan dan bangunan.
3. Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah: arus kas dari transaksi yang
mempengaruhi ekuitas dan hutang perusahaan. Contoh: penerbitan atau penarikan
ekuitas dan hutang.
Menurut Ikatan
Akuntansi Indonesia, laporan arus kas melaporkan selama periode tertentu dan
diklasifikasikan menurut 3 (tiga) jenis aktivitas, yaitu:
1. Aktivitas Operasi.
2. Aktivitas Investasi.
3. Aktivitas Pendanaan.
Berikut ini dijelaskan mengenai Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan
Aktivitas Pendanaan:
1. Aktivitas Operasi
Jumlah aliran arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator
yang menentukan apakah dari operasi perusahaan dapat menghasilkan aliran kas
yang cukup untuk melunasi pinjaman, pemeliharaan kemampuannya tersebut membayar
deviden dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan para sumber pendanaan
dari luar. Arus kas masuk yang
berasal dari Aktivitas Operasi, misalnya:
a. Kas yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa secara tunai.
b. Kas yang diterima dari penagihan piutang dagang dan piutang lainnya.
c. Kas yang diterima dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha.
Arus kas keluar yang
berasal dari Aktivitas Operasi, misalnya:
a. Kas yang dikeluarkan untuk pajak dan biaya administrasi lainnya.
b. Pembayaran hutang-hutang jangka pendek, yang meliputi: hutang dagang, gaji,
bunga dan sebagainya.
c. Pembayaran untuk pembelian barang dan jasa.
d. Pengeluaran kas untuk kegiatan operasi termasuk juga untuk pembayaran biaya
gaji, upah, sewa dan biaya operasi lainnya.
2. Aktivitas Investasi
Transaksi kas yang berhubungan dengan perolehan fasilitas investasi dan non kas
lainnya yang digunakan oleh perusahaan. Arus kas masuk terjadi jika kas yang
diterima dari hasil atau pengembalian investasi yang dilakukan sebelumnya,
misalnya: dari hasil atau penjualan.
Arus kas masuk yang berasal dari Aktivitas Investasi, misalnya:
a. Penjualan aktiva tetap.
b. Penjualan surat berharga yang berupa investasi.
c. Penagihan pinjaman jangka panjang (tidak termasuk bunga jika ini merupakan
kegiatan investasi).
Arus kas keluar yang
berasal dari aktivitas, misalnya:
a. Pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap.
b. Pembelian investasi jangka panjang.
c. Pemberian pinjaman ke pihak lain.
3. Aktivitas Pendanaan
Kegiatan pendapatan sumber dana dari pemilik dengan memberikan prospek
penghasilan dari sumber dana tersebut, meminjam dan membayar hutang kembali,
atau melakukan pinjaman jangka panjang untuk membayar hutang tersebut. Arus kas yang berasal dari Aktivitas Pendanaan, misalnya:
a. Penerimaan kas dan surat berharga dalam bentuk equity (sewajarnya).
b. Penerimaan dari penerbitan hutang obligasi dan hutang jangka panjang
lainnya.
Arus kas keluar yang berasal dari Aktivitas Pendanaan, misalnya:
a. Pembayaran kas kepada pemegang saham untuk menarik atau menebus saham
perusahaan.
b. Pembayaran deviden dan pembagian lainnya yang diberikan kepada pemilik.
c. Pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lease) untuk mengurangi saldo
kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna pembiayaan.
·
METODE PENYUSUNAN LAPORAN ARUS KAS
Salah satu analisis keuangan yang sangat penting bagi manajer keuangan,
disamping alat keuangan lainnya adalah laporan arus kas. Yang dimaksud dari
analisis ini adalah untuk mengetahui bagaimana akan digunakan dan bagaimana
kebutuhan dana tersebut akan dibelanjakan. Analisis arus kas tersebut dapat
diketahui darimana diperoleh dan untuk apa dana tersebut digunakan. Suatu
laporan yang menggambarkan darimana diperoleh dan untuk apa kas tersebut
digunakan, seiring disebut sebagai laporan arus kas.
Laporan arus kas secara langsung atau tidak langsung mencerminkan penerimaan
kas entitas yang diklasifikasikan menurut sumber-sumber utama dan pembayaran
kas yang diklasifikasikan menurut pengguna utama selama satu periode. Laporan
ini memberikan informasi yang berguna mengenai aktivitas entitas dalam
menghasilkan kas mengenai aktivitas keuangannya dan mengenai investasi atau
pengeluaran kasnya.
Dalam
menyusun laporan arus kas terdapat 2 (dua) Metode yang digunakan yaitu :
1. Metode Langsung
Dalam Metode Langsung dilaporkan golongan penerimaan kas bruto dari aktivitas
operasi dan pengeluaran kas bruto untuk kegiatan operasi. Perbedaan antara
penerimaan kas dan pengeluaran kas dari kegiatan operasi akan dilaporkan
sebagai arus kas bersih dari aktivitas operasi. Dengan kata lain, metode
langsung mengurangkan pengeluaran kas operasi dari penerimaan kas operasi.
Metode langsung menghasilkan penyajian laporan penerimaan dan pengeluaran kas
secara ringkas.
Dalam Metode Langsung
laporan arus kas juga melaporkan arus kas bersih dari investasi operasi sebagai
golongan utama dari penerimaan kas operasi (misalnya: kas yang diterima dari
pelanggan dan kas yang diterima dari bunga dan deviden) dan pengeluaran kas
(misalnya: kas yang dibayarkan kepada pemasok untuk barang, kepada karyawan
untuk jasa, kepada kreditur untuk bunga dan ke instansi pemerintah untuk
pajak).
Keunggulan utama dari
metode langsung adalah metode ini memperlihatkan laporan penerimaan dan
pengeluaran kas lebih konsisten dengan tujuan suatu laporan arus kas. Disamping
itu, metode langsung ini lebih mudah dimengerti dan memberikan informasi yang
lebih banyak dalam mengambil keputusan.
Dengan metode langsung informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas bruto
dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh dengan:
a. Adanya catatan akuntansi perusahaan.
b. Menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan dan pos-pos lain dalam laporan
laba rugi mengenai:
1) Perubahan persediaan, piutang usaha dan hutang dagang selama periode
berjalan.
2) Pos bukan kas lainnya.
3) Pos lainnya yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.
2. Metode Tidak
Langsung
Dalam Metode Tidak Langsung, pengaruh dari semua penangguhan penerimaan dan
pengeluaran kas di masa lalu dan semua akurat dari penerimaan kas dan
pengeluaran kas yang diharapkan pada masa yang akan datang dihilangkan dan laba
bersih yang diperhitungkan laba rugi. Penyediaan ini dilakukan dengan
menambahkan pos-pos yang tidak memerlukan pengeluaran kas kembali ke laba
bersih serta penambahan dan pengurangan kenaikan maupun penurunan hutang dan
piutang.
Keunggulan utama metode
ini adalah bahwa hal ini memusatkan perbedaan antara laba bersih dan aliran kas
bersih dari aktivitas operasi. Arus kas bersih dari aktivitas operasi
ditentukan dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh :
a. Perubahan persediaan dan piutang usaha serta hutang usaha selama periode
berjalan.
b. Pos bukan kas, seperti: penyusutan, penyisihan, pajak yang ditangguhkan,
keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan
asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam rugi konsolidasi /
perbandingan.
Arus kas bersih dari
aktivitas operasi dapat dilaporkan (tidak langsung) dengan menyajikan
pendapatan dengan beban yang diungkapkan dalam laporan laba rugi serta perubahan
dalam persediaan, piutang usaha dan hutang usaha selama periode tertentu.
Sedangkan dengan cara pelaporan arus kas bentuk investasi dan pendanaan pada
kedua metode, baik langsung maupun tidak langsung adalah sama. Jadi yang
berbeda adalah metode pelaporan arus kas untuk kegiatan operasi perusahaan.
Lembaga keuangan
mempunyai keinginan yang kuat terhadap metode tidak langsung karena menurut
anggapan mereka metode ini lebih informatif. Meskipun lembaga keuangan yang
menghendaki agar debiturnya menyusun laporan arus kas perusahaannya dengan
metode langsung namun debiturnya tidak dapat begitu saja memenuhi keinginan
kreditur, karena baginya lebih bermanfaat penggunaan metode tidak langsung ini
mampu menggambarkan arus kas bersih dari kegiatan operasi juga pendekatan ini
dapat lebih menarik perhatian dengan penyesuaian yang kompleks.
Metode tidak langsung
juga memberikan informasi keuangan dalam penentuan laba / rugi yang menggunakan
metode akrual basis, dimana metode ini merupakan petunjuk yang salah dalam
penilaian atas arus kas dari operasi. Jika perusahaan terus memakai metode
tidak langsung, maka harus ada pengungkapan yang terpisah mengenai
perubahan-perubahan dalam perkiraan piutang, persediaan barang, investasi,
biaya yang dibayar dimuka dan perkiraan aktiva lancar lainnya. Perkiraan hutang
dagang, gaji, sewa dan perkiraan hutang lancar lainnya untuk menentukan jumlah
bersih perubahan kas dari kegiatan operasi dalam waktu hendak menyesuaikan
pendapatan bersih dengan penerimaan dan pengeluaran bersih dari kegiatan
operasi.
Sumber Referensi :
Komentar
Posting Komentar