Bab 3. Konsep Nilai Uang Terhadap Waktu
Pendahuluan
Nilai
uang terhadap waktu merupakan konsep dimana bahwa nilai uang sekarang akan
lebih berharga dari pada nilai uang masa yang akan datang atau suatu konsep
yang mengacu pada perbedaan nilai uang yang disebabkan karena perbedaaan waktu.
Dalam memperhitungkan, baik nilai sekarang maupun nilai yang akan datang maka
kita harus mengikutkan panjangnya waktu dan tingkat pengembalian maka konsep
time value of money sangat penting dalam masalah keuangan baik untuk
perusahaan, lembaga maupun individu.
Maka
sudah jelas time value of money sangat penting untuk dipahami oleh kita semua,
sangat berguna dan dibutuhkan untuk kita menilai seberapa besar nilai uang masa
kini dan akan datang. Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai konsep nilai
uang terhadap waktu dan ekivalensi.
3.1 Pertimbangan pengembalian
terhadap modal
Tingkat pengembalian modal dihitung berdasarkanrata-rata
tertimbang biaya permodalan . yaitu biaya dari setiap komponen dalam struktur
permodalan dirata-ratakan menurut persentase komponen modal tersebut terhadap
jumlah permodalan keseluruhan.
3.2 Asal mula Bunga
Menurut
Hubbard ( 1997 ) dalam Laksmono ( 2001), Bunga Adalah Biaya yang harus di bayar
Borrower
Menurut
Kem dan Guttman (1992) seperti di uraikan Laksmono ( 2001 ) menganggap Suku
Bunga merupakan sebuah harga dan sebagai mana harga lainnya maka tingkat Suku
Bunga, yaitu :
1).
SUKU BUNGA NOMINAL
Yaitu Suku Bunga yang dapat di amati di
pasaran.
2).
SUKU BUNGA RIIL
Yaitu suku Bunga yang secara konsep di ukur
tingkat pengembaliannya setelah dikurangi
inflansi.
3).
SUKU BUNGA JANGKA PENDEK
Yaitu Suku Bunga yang jatuh tempo ( Maturity )
satu tahun atau kurang.
4).
SUKU BUNGA JANGKA PANJANG
Yaitu
Suku Bunga yang jatuh tempo ( Maturitty ) lebih dari satu tahun.
3.3 Bunga Sederhana
Bunga
sederhana:
merupakan hasil dari pokok utang, suku bunga per periode, dan lamanya waktu
peminjaman.
Jika
ada 2 pilihan untuk kita, yaitu:
a.
Menerima Rp 1.000.000 hari ini
b.
Menerima Rp 1.000.000 enam bulan lagi
Mana
yang akan kita pilih? Mengapa?
Pasti
kebanyakan dari kita memilih Rp 1.000.000 hari ini,mengapa?Karena kalau
menerima pada hari ini sifatnya pasti sedangkan apabila menerimanya enam bulan
lagi adalah tidak pasti.
Ini
bukan jawaban yang diharapkan. Untuk menghindari jawaban ini, dalam pilihan
diatas disebutkan bahwa kedua pilihan tersebut memiliki tingkat kepastian yang
sama. Mereka yang pernah belajar ekonomi atau keuangan akan dengan mudah
memberikan alasannya, yaitu karena adanya faktor bunga akibat perbedaan waktu
atau istialah yang sering digunakan adalah “nilai waktu dari uang (time
value of money)”.
Dengan asumsi
manusia adalah makhluk rasional, pilihan yang harus diambil adalah
menerima Rp 1.000.000 hari ini dibandingkan dengan menerima Rp
1.000.000 enam bulan lagi, karena Rp 1.000.000 hari ini akan
memberikan bunga selama enam bulan kedepan, yang besarnya tergantung tingkat
bunga, sehingga bernilai lebih dari Rp 1.000.000 pada saat itu (pendekatan
nilai masa depan atau future value). Kita juga bisa menggunakan
pendekatan nilai sekarang (present value) yaitu dengan menghitung
nilai hari ini dari uang senilai 1.000.000 enam bulan lagi dan
membandingkannya dengan uang senilai Rp 1.000.000 hari ini.Kedua
pendekatan ini harus memberikan keputusan yang sama.
3.4 Bunga Majemuk
Bunga majemuk (compound interest)
mengacu pada pembayaran bunga atas pokok dan bunganya yang selalu terakumulasi
dari waktu ke waktu.
Dengan bunga majemuk, pembayaran bunga terus ditambahkan ke
pokok simpanan dan pokok yang sudah ditambahkan ini akan terus mendapatkan
bunga.
Dalam rumus bunga majemuk, A (jumlah
total pendapatan) merupakan hasil dari perkalian dari P (pokok simpanan)
dikalikan dengan konstanta 1 ditambah r (tingkat persentase bunga tahunan)
dipangkatkan dengan n (jumlah tahun atau lama menabung).
Atau bisa pula dituliskan: A = P (1 + r)^n
3.5 Konsep Keekivalenan
Ekuivalensi berarti semua cara
pembayaran yang memiliki daya tarik yang sama bagipeminjam. Meskipun total
pembayaran kembali uang pinjaman berbeda menurut caranya, tetapibisa
ekuivalensi satu sama lain merupakan konsep yang penting dalam ekonomi
teknik. Ekuivalensi tergantung pada :
a) Tingkat suku bunga
b) Jumlah uang yang terlibat
c)
Waktu menerima dan / atau pengeluaran uang.
d) Sifat yang berkaitan dengan
pembayaran bunga terhadap modal yang ditanamkan dan modal awal yang diperoleh kembali.
Ekuivalensi terjadi bila total
bunga pinjaman yang dibayarkan dibagi total pinjamanmenghasilkan jumlah yang sama pada cara pembayaran mana saja.
Alternatif-alternatif
harus dibandingkan sejauh mungkin apabila alternatif-alternatif ini memberikan
hasil yang sama, memberikan kegunaan yang sama atau menyelesaikan fungsi yang
sama. Dalam membandingkannya kita harus menyederhanakannya kedalam suatu basis
keekivalenan yang tergantung pada:
1) Tingkat
bunga.
2) Jumlah
uang yang terlibat.
3) Waktu
penerimaan / pengeluaran uang
Sifat
yang berkaitan dengan pembayaran bunga atau laba terhadap modal yang ditanamkan
dan modal awal yang diperoleh kembali.
3.6 Notasi dan Diagram/Tabel Arus Kas
Arus
kas secara formal digunakan untuk memperlihatkan penerimaan dan pengeluaran
dari uang yang akan digunakan untuk proyek. Hal ini bisa dikerjakan dengan
menggunakan tabel / diagram arus kas.
|
End
of Year
|
Receipts
/ Disbursements
|
|
0
|
-$
15,000
|
|
1
|
$5,000
|
|
2
|
$5,000
|
|
3
|
$5,000
|
|
4
|
$7,000
|
Tabel
3.3 Tabel Arus kas
Gambar
3.1 Diagram Arus kas
Tabel
dan diagram arus kas juga menggambarkan tipe arus kas itu sendiri, contohnya
untuk pengeluaran pada periode ke-0 bisa merupakan investasi awal, biaya
konstruksi dan lain-lain dan untuk cash flow diakhir tahun bisa termasuk nilai
sisa yakni nilai dari suatu peralatan atau fasilitas yang dapat dijual pada
akhir dari proyek.
Berikut
notasi yang digunakan dalam rumus-rumus perhitungan bunga majemuk:
i = tingkat bunga
efektif per periode bunga
n = banyaknya periode
pemajemukan
P = banyaknya uang saat
ini
F = banyaknya uang dimasa
datang
A = arus-arus kas pada akhir
periode dalam suatu deretan seragam yang
berlanjut
sampai sejumlah periode tertentu, yang mulai pada akhir periode pertama
dan terus hingga periode terakhir.
3.7 Tidak diketahui nilai awal, diketahui nilai
akan datang
Nilai
yang akan datang atau future value adalah nilai uang di massa yang akan datang
dengan tingkat bunga tertentu.Future value atau nilai yang akan datang dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
FV
= PV ( 1 + r ) ^ n
Keterangan:
FV
= ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
Rumus
diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya sekali dalam setahun, jika
bunga digandakan setiap hari , maka rumusnya menjadi:
FV
= PV ( 1 + r /360 ) ^ 360n
Untuk
menggambarkan penggunaan rumus diatas, maka diberi contoh berikut ini:
Pada tanggal 2 januari 2000, Agung menabung uangnya ke bank mandiri sebesar Rp 2.000.000 dengan tingkat bunga sebesar 12 % pertahun. Hitung nilai tabungan agung pada tanggal 2 Januari 2002 dengan asumsi:
Pada tanggal 2 januari 2000, Agung menabung uangnya ke bank mandiri sebesar Rp 2.000.000 dengan tingkat bunga sebesar 12 % pertahun. Hitung nilai tabungan agung pada tanggal 2 Januari 2002 dengan asumsi:
Bunga
dimajemukkan setahun sekali
Bunga
dimajemukkan sebulan sekali
Bunga
dimajemukkan setiap hari
Jawab
:
FV
= Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 ) ^2 = Rp 2.508.800
FV
= Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 /12 ) ^12 ( 2 ) = Rp 2.539.470
FV
= Rp 2.000.000 ( 1 + 0,12 /360 ) ^360 ( 2 ) = 2.542.397
3.8 Tidak diketahui nilai seragam, diketahui
nilai awal
Tidak
diketahui nilai akan datang, diketahui nilai awal
Jika suatu jumlah P rupiah ditanamkan
pada suatu saat sekarang dan i merupakan tingkat bungaper periode
(keuntungan atau pertumbuhan), jumlahnya akan meningkat dari sebesar P
menjadiP+Pi = P(1+i) pada akhir periode pertama; pada akhir dari dua
periode besarnya akan meningkatmenjadi P(1+i)(1+i) = P(1+i) 2
; pada akhir dari
tiga periode, besarnya akan meningkat menjadiP(1+i)2
(1+i) = P(1+i)3
; dan pada akhir dari n periode
jumlahnya akan meningkat menjadi :
F = P (1 +i
3.9 Tidak
diketahui nilai akan datang, diketahui nilai awal
Nilai
sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk nilai
tertentu di masa yang akan datang. Present value atau nilai sekarang bisa di
cari dengan menggunakan rumus future value atau dengan rumus berikut ini :
PV
= FV ( 1 + r ) ^-n
Keterangan
:
FV = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
FV = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
PV = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r = Suku bunga
n = Waktu ( tahun )
^ = tanda pangkat
Rumus diatas mengasumsikan bahwa bunga di gandakan hanya sekali
dalam setahun, jika bunga digandakan setiap hari, maka rumusnya menjadi:
PV
= FV ( 1 + r / 360 ) ^-360 n
Untuk
menggambarkan penggunaan rumus diatas , maka diberi contoh berikut ini :
Harga sepeda motor 2 tahun mendatang sebesar Rp 10.000.000. Tingkat bunga rata-rata 12% setahun. Berpa yang harus ditabung Agung saat ini agar dapat membelinya dua tahun mendatang, dengan asumsi:
Harga sepeda motor 2 tahun mendatang sebesar Rp 10.000.000. Tingkat bunga rata-rata 12% setahun. Berpa yang harus ditabung Agung saat ini agar dapat membelinya dua tahun mendatang, dengan asumsi:
Bunga
dimajemukkan setahun sekali
Bunga
dimajemukkan sebulan sekali
Jawab
:
PV
= Rp 10.000.000 ( 1 + 0,12 ) ^ -2 = Rp 7.971.939
PV
= Rp 10.000.000 ( 1 + 0,12/12 ) ^ -12 ( 2 ) = Rp 7.875.661
3. 10 Gradient
seragam
Cash flow gradient adalah cash flow dimana
jumlah aliran uangnya meningkat atau berkurang dalam jumlah tertentu setiap
periodik.
Ada dua jenis, yaitu:
a. Arithmetic Gradient, cash flow yang melibatkan penerimaan-penerimaan atau pengeluaran-pengeluaran yang diproyeksikan agar meningkat atau berlurang jumlahnya secara konstan, G, pada setiap periode, yang dapat dimodelkan dengan suatu kemiringan/gradient yang seragam (uniform gradient / areithmetic gradient).
Ada dua jenis, yaitu:
a. Arithmetic Gradient, cash flow yang melibatkan penerimaan-penerimaan atau pengeluaran-pengeluaran yang diproyeksikan agar meningkat atau berlurang jumlahnya secara konstan, G, pada setiap periode, yang dapat dimodelkan dengan suatu kemiringan/gradient yang seragam (uniform gradient / areithmetic gradient).
– Mencari P jika G diketahui
® kondisi P berada dalam satu periode sebelum nilai cash flow nol
® kondisi P berada dalam satu periode sebelum nilai cash flow nol
Atau
Contoh:
* Seseorang mengharapkan hasil investasi untuk 5 tahun ke depan dengan rincian pada tahunpertama sebesar Rp600,- yang akan meningkat sebesar Rp200,- pada setiap tahun berikutnya. Jika tingkat suku bunga 15% per tahunm berapakah yang harus diinvestasikan orang tersebut saat ini?
* Seseorang mengharapkan hasil investasi untuk 5 tahun ke depan dengan rincian pada tahunpertama sebesar Rp600,- yang akan meningkat sebesar Rp200,- pada setiap tahun berikutnya. Jika tingkat suku bunga 15% per tahunm berapakah yang harus diinvestasikan orang tersebut saat ini?
– Mencari A jika G diketahui
® kondisi A berada mulai dari cash flow nol sampai dengan penerimaan/pengeluaran yang diproyeksikan agar meningkat/berkurang berakhir secara konstan
® kondisi A berada mulai dari cash flow nol sampai dengan penerimaan/pengeluaran yang diproyeksikan agar meningkat/berkurang berakhir secara konstan
b. Geometric Gradient, pola proyeksi
ash flow yang berubah pada tingkat/rate, g, setiap periode, dinyatakan sebagai
urutan gradient geometrik (geometric gradient series)
– Mencari P jika A diketahui
– Mencari P jika A diketahui
Jika i ≠ g
Jika i = g
Untuk mendapatkan nilai A dan F yang ekuivalen, hasil yang didapat dikalikan dengan faktor dan
Jika i = g
Untuk mendapatkan nilai A dan F yang ekuivalen, hasil yang didapat dikalikan dengan faktor dan
Contoh:
o Serangkaian arus kas geometric gradient selama empat tahun berturut-turut, dimulai dengan A1 sebesar 1.000, yang meningkat 20% setiap tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tingkat suku bunga 25% per tahun, tentukan nilai P yang ekuivalen dengan rangkaian arus kas tersebut.
o Serangkaian arus kas geometric gradient selama empat tahun berturut-turut, dimulai dengan A1 sebesar 1.000, yang meningkat 20% setiap tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tingkat suku bunga 25% per tahun, tentukan nilai P yang ekuivalen dengan rangkaian arus kas tersebut.
o Seorang pengusaha mendapatkan
kredit dari bank sebesar Rp100 milyar dengan bunga 12% per tahun. Kredit harus
dilunasi dalam waktu 25 tahun dengan sistem angsuran tahunan. Perjanjian kredit
menyatakan bahwa jika terjadi perubahan kebijakan moneter pemerintah, bank
dapat mengubah tingkat suku bunga pinjaman. Pada tahun ke-10 terjadi krisis
ekonomi yang memaksa bank menaikkan bunga menjadi 20% per tahun.
a. Jika besarnya angsuran tetap sama dengan angsuran sebelum terjadi krisis dan dengan asumsi bahwa tingkat suku bunga tidak akan berubah lagi, setelah berapa tahun pinjaman pengusaha tersebut akan terlunasi?
Ternyata, lima tahun kemudian krisis ekonomi berakhir. Untuk itu,bank memberikan insentif berupa penurunan bunga menjadi 10% per tahun dan angsuran yang selalu naik sebesar 5% setiap tahunnya.
b. Dengan skema angsuran seperti itu, pada tahun ke berapa pinjaman pengusaha tersebut akan terlunasi
a. Jika besarnya angsuran tetap sama dengan angsuran sebelum terjadi krisis dan dengan asumsi bahwa tingkat suku bunga tidak akan berubah lagi, setelah berapa tahun pinjaman pengusaha tersebut akan terlunasi?
Ternyata, lima tahun kemudian krisis ekonomi berakhir. Untuk itu,bank memberikan insentif berupa penurunan bunga menjadi 10% per tahun dan angsuran yang selalu naik sebesar 5% setiap tahunnya.
b. Dengan skema angsuran seperti itu, pada tahun ke berapa pinjaman pengusaha tersebut akan terlunasi
3.11 Suku Bunga terhadap waktu
Faktor jangka waktu sangat menentukan. Semakin panjang jangka
waktu pinjaman, akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya
kemungkinan resiko macet di masa mendatang. Demikian pula sebaliknya, jika
pinjaman berjangka pendek, bunganya relatif rendah.
· Tingkat
suku bunga nominal dan suku bunga efektif
Suku bunga
dibedakan menjadi dua, suku bunga nominal dan suku bunga riil. Suku bunga
nominal adalah rate yang dapat diamati di pasar. Sedangkan suku bunga riil
adalah konsep yang mengukur tingkat bunga yang sesungguhnya setelah suku
bunga nominal dikurangi dengan laju inflasi yang diharapkan.
Tingkat suku
bunga juga digunakan pemerintah untuk mengendalikan tingkat harga, ketika
tingkat harga tinggi dimana jumlah uang yang beredar di masyarakat banyak
sehingga konsumsi masyarakat tinggi akan diantisipasi oleh pemerintah dengan
menetapkan tingkat suku bunga yang tinggi. Dengan tingkat suku bunga tinggi
yang diharapkan kemudian adalah berkurangnya jumlah uang beredar sehingga
permintaan agregat pun akan berkurang dan kenaikan harga bisa diatasi.
Secara teori
tingkat bunga yang dibayarkan bank adalah tingkat bunga nominal yang merupakan
penjumlahan tingkat bunga riil ditambah inflasi (Mankiw,2003). Adanya kenaikan
atau penurunan inflasi akan berdampak pada kenaikan atau penurunan tingkat
bunga kredit.
Pada tahun
2002, kondisi makroekonomi menunjukkan perkembangan yang kondusif. Ini terlihat
dari terkendalinya uang primer, serta laju inflasi dan nilai tukar yang
menunjukkan perkembangan yang positif. Oleh karena itulah, Bank Indonesia mulai
memberikan sinyal penurunan tingkat bunga secara bertahap. Hal ini dilakukan
melalui penurunan tingkat bunga instrumen moneter yang salah satunya adalah
SBI. Walaupun tingkat bunga SBI mengalami penurunan, tingkat bunga kredit
relatif rigid.
Suku bunga
kredit yang ada pada saat ini dianggap beberapa kalangan baik dari pelaku
bisnis maupun pakar ekonomi belum optimal. Mereka menuntut agar Bank Indonesia
selaku penguasa moneter mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit
berkaitan dengan turunnya SBI agar dapat meningkatkan atau mengembangkan sektor
riil lewat kegiatan investasinya. Namun tuntutan itu belum atau baru sedikit
yang dipenuhi (Info Bank, 2004).
Masih relatif
tingginya suku bunga kredit di tengah-tengah masih adanya ketidakpastian
prospek usaha tentu saja akan mengurangi semangat sektor dunia usaha untuk
melakukan investasi. Walaupun dilihat dari beberapa indikator, fungsi
intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit telah menunjukkan perbaikan,
namun dalam kenyataannya penyaluran kredit perbankan pada sektor riil belum
dapat berlangsung dengan cepat karena berbagai permasalahan yang dihadapai oleh
sektor riil itu sendiri meskipun hal tersebut juga ada kaitannya dengan
konsolidasi internal di perbankan.
Gejolak suku
bunga dan inflasi menjadi dua faktor penting yang mempengaruhi aktivitas
penyaluran kredit. Keduanya tidak hanya mendorong suku bunga kredit, tapi juga
membuat risiko kredit macet menjadi besar. Tetapi dalam kondisi seperti ini,
kegiatan kredit perbankan harus tetap berlangsung.
3.12 Tingkat suku bunga nominal dan suku
bunga efektif
1. Bunga Nominal
Suku bunga
nominal adalah suku bunga yang biasa kita lihat bank atau media
cetak. Misalnya perusahaan meminjam uang dari bank sebesar $100.000 selama
setahun pada suku bunga nominal 10%, maka pada akhir tahun perusahaan harus
mengembalikan pinjaman tersebut sebesar $110.000 (yaitu $100.000 x 10%).
Suku bunga nominal cenderung naik seiring dengan angka inflasi. Jika, misalnya, bank memberlakukan suku bunga 10% pada ekspektasi inflasi selama satu tahun ke depan adalah 0%, maka bank mungkin akan memberlakukan suku bunga 13% jika ekspektasi inflasinya adalah 3%.
Suku bunga nominal cenderung naik seiring dengan angka inflasi. Jika, misalnya, bank memberlakukan suku bunga 10% pada ekspektasi inflasi selama satu tahun ke depan adalah 0%, maka bank mungkin akan memberlakukan suku bunga 13% jika ekspektasi inflasinya adalah 3%.
2. Bunga Efektif
Bunga
efektif adalah bunga yang dihitung berdasarkan perubahan aktual dari nilai awal
dan akhir sejumlah tertentu, atau dapat juga dihitung dengan menggunakan
pendekatan Time Value of Money dengan mencari future value dari
sejumlah uang dengan tingkat bunga tertentu. Dimana rumus tersebut dapat
dinyatakan dengan :
FVn =
(1+r)n x PV
Dimana
:
FVn =
Future Value setelah n tahun
PV
= Present Value
n
= Jangka waktu per tahun
r
= tingkat bunga per tahun
Sebagai
contoh, jika FV adalah Rp. 169 Juta, PV adalah Rp. 100 Juta, n adalah 2 tahun,
maka didapat nilai r = 30%. Nilai r ini adalah bunga efektif per
tahun dari nilai investasi tersebut.
Sistem Bunga Efektif
Sistem
bunga efektif adalah porsi bunga dihitung berdasarkan pokok hutang tersisa.
Sehingga porsi bunga dan pokok dalam angsuran setiap bulan akan berbeda, meski
besaran angsuran per bulannya tetap sama. Sistem bunga efektif ini biasanya
diterapkan untuk pinjaman jangka panjang semisal KPR atau kredit investasi.
Dalam
sistem bunga efektif ini, porsi bunga di masa-masa awal kredit akan sangat
besar di dalam angsuran perbulannya, sehingga pokok hutang akan sangat sedikit
berkurang. Jika kita hendak melakukan pelunasan awal maka jumlah pokok hutang
akan masih sangat besar meski kita merasa telah membayar angsuran yang jika
ditotal jumlahnya cukup besar. Sistem bunga efektif akan lebih berguna untuk
pinjaman jangka panjang yang tidak buru-buru dilunasi di tengah jalan.
RUMUS BUNGA NOMINAL & EFEKTIF
n
Suku bunga nominal :
•
r = i x M
n
Suku bunga efektif :
•
ieff = (1 + i)M -1
atau
•
ieff = (1 + r/M)M -1
•
dimana : ieff = suku bunga efektif
•
r = suku bunga nominal tahunan
•
i = suku bunga nominal per periode
•
M = jumlah periode majemuk per satu tahun
Contoh
Soal:
Apabila
suku bunga nominal per
tahun
adalah 15%, yang mana
dalam
satu tahun terdiri dari 4
kuartal,
Berapakah besarnya suku
bunga
nominal untuk setiap kuartal
•
r = 15%
•
M = 3
•
i = r / M = 15% / 4 = 3.75% per kuartal
Berapa
pula suku bunga efektif per tahun nya ?
n
ieff = (1 + i)M -1
=
(1 + 0,0375)4 – 1
=
0,1586 atau 15,86% per tahun
ATAU
n
ieff = (1 + r/M)M -1
=
(1 + 0,375/4)4 – 1
=
0,1586 atau 15,86%/tahun
Hitung
suku bunga efektif per kuartal ?
n
suku bunga nominal per kuartal =
3.75%
(= r)n
M
= 1/4 tahun = 0,25 dalam satu
tahun
n
ieff = (1 + r/M)M -1
=
(1 + 0,0375/0,25)0,25 – 1
=
0,0355 atau 3,55%
Sumber
Refrensi :

Komentar
Posting Komentar